Assalamu'alaikum. Ayo teman-teman kita sama-sama bernostagia dengan mendengarkan Lagu "I'm Gonna Loose You". Selamat Galau........!💖💘😌
Rabu, 14 Agustus 2019
I'm Gonna Loose You
Assalamu'alaikum. Ayo teman-teman kita sama-sama bernostagia dengan mendengarkan Lagu "I'm Gonna Loose You". Selamat Galau........!💖💘😌
Rabu, 07 Agustus 2019
Pengembangan Model Pembelajaran Teaching Factory (TeFa)
Pengembangan Teaching Factory (TeFa) di SMK Bidang Pertanian
Oleh : Undang Iman Santosa
(Kepala SMK Negeri 1 Cugenang – Kab. Cianjur)
Teaching Factory (TeFa) dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 tentang Pengembangan Sumber Daya Industri dijelaskan
sebagai “pabrik dalam sekolah (teaching factory) adalah sarana produksi
yang dioperasikan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya
untuk menghasilkan produk sesuai dengan kondisi nyata di Dunia Usaha/Dunia
Industri (DUDI) dan tidak berorientasi mencari keuntungan”. Sedangkan dalam Permendiknas
34 Tahun 2018 Pembelajaran Industri (teaching
factory) adalah model pembelajaran yang bernuansa industri melalui sinergi
SMK/MAK dengan dunia usaha/industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten
sesuai dengan kebutuhan pasar. Berdasar penjelasan di atas pelaksanaan TeFa menuntut kemitraan dengan
DUDI serta dukungan Pemerintah, Pemerintah Daerah, orang tua murid, masyarakat
serta pihak-pihak terkait lainnya.
TeFa adalah pembelajaran berbasis produksi sehingga
SMK yang melaksanakan melakukan kegiatan pembelajaran dan sekaligus produksi. Dalam
rangka pelaksanaan TeFa, sekolah harus melakukan beberapa perubahan, yaitu:
pembelajaran dan lingkungan yang harus mencerminkan ekosistem dan atmosfir DUDI. TeFa dikembangkan dan diselenggarakan
berdasarkan kemitraan antara SMK dan DUDI terutama yang berada di sekitarnya
atau wilayahnya, mulai dari menetapkan dan atau inovasi produk (barang/jasa),
menyiapkan perangkat pembelajaran, mengondisikan ruang praktik/bengkel/lahan
dan lingkungan, proses dan evaluasi pembelajaran serta pemanfaatan produk dan
lulusan.
A.
Tujuan Teaching Factory
Membekali lulusan SMK dengan kompetensi teknis yang utuh dan
riil serta karakter kinerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, berjiwa
wirausaha serta memiliki kesiapan untuk memasuk
B.
Prinsip Teaching Factory
1.
Dilaksanakan berdasarkan
kemitraan strategis dengan DUDI.
2.
Pembelajaran praktik
berbasis produksi, baik barang maupun jasa, berkualitas berdasarkan standar DUDI
dan dibutuhkan masyarakat pada umumnya.
3.
Produk (barang dan
atau jasa) ditetapkan bersama-sama mitra DUDI atau melalui kajian secara
mandiri, atau dengan mengkonversi produk Unit Usaha/Produksi yang telah
dimiliki dan disesuaikan dengan kompetensi Lulusan.
4.
Pembelajaran
dirancang dengan perangkat khusus untuk memastikan pemenuhan kompetensi dasar
(KD) sebagai acuan pada aktivitas/kegiatan proses produksi, atau menggunakan
perangkat atau instrumen lain yang lazim digunakan atau tersedia di mitra DUDI.
5.
Peserta didik
terlibat langsung sepenuhnya dalam proses produksi sehingga kompetensi,
kesiapan, dan karakter kerja terbangun melalui kegiatan yang dilakukan selama pembuatan
barang dan atau penyelesaian layanan jasa;
6.
Pembelajaran praktik
(dalam proses produksi) dilakukan di tempat yang telah dikondisikan sesuai
keadaan atau mendekati standar DUDI, termasuk alur kegiatan produksi, aturan
dan norma kerja (termasuk jam kerja), SOP serta ketentuan lain yang berlaku di DUDI.
7.
Adanya sistem dan
atau tatanan pengelolaan pemanfaatan produk sesuai peraturan yang berlaku.
C.
Profil/Ciri SMK Teaching Factory
1.
Lingkungan sekolah bernuansa seperti di lingkungan
DUDI, atau tempat kerja/usaha yang sesungguhnya;
2.
Tempat belajar praktik;
workshop/bengkel/lahan/sanggar ditata
dan dilengkapi fasilitas serta sarana penunjang lainnya sesuai standar DUDI;
3.
Pembelajaran praktik
menggunakan perangkat/ instrumen/ format untuk melakukan kegiatan/aktivitas
produksi barang dan atau layanan jasa.
4.
Pengelolaan
pembelajaran praktik mengacu pada sistem dan jam kerja DU/DI.
5.
Pengelolaan outsourching (bila diperlukan).
6.
Hasil
pembelajaran praktik peserta didik berupa produk barang atau jasa riil/utuh sesuai
standar DUDI dan kebutuhan masyarakat pada umumnya.
7.
Tata kelola pemanfaatan
produk secara legal sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
![]() |
![]() |
||
Gambar Pengembangan
TeFa Jamur Tiram di SMK Negeri 1 Cugenang, Cianjur
D.
Strategi Pengembangan
Tujuan utama model pembelajaran TeFa adalah meningkatkan
kompetensi peserta didik secara riil dan utuh, menaikkan tingkat kesiapan
kerja, serta membangun karakter kerja agar setelah lulus mempunyai kualitas dan
kualifikasi yang sesuai tuntutan (DUDI). Berdasar tujuan tersebut maka strategi
utama pengembangan TeFa adalah melibatkan DUDI sebagai mitra dari awal sampai
akhir. Kemitraan tersebut diharapkan mampu meningkatkan penyerapan lulusan, dan
pemanfaatan, pengembangan serta inovasi produk pembelajaran TeFa berupa barang
dan atau jasa.
Pembelajaran model TeFa diatur berdasarkan kurikulum yang berlaku dalam
rangka mewujudkan kompetensi. Perancangan
produk dan jasa harus dikaitkan dengan KD pada setiap kompetensi keahlian
secara menyeluruh. Apabia ada KD yang tidak terkait produk atau jasa yang
dikerjakan harus dilakukan pembelajaran secara tersendiri. Pelaksanaan produksi
dilaksanakan mengacu standar proses yang disesuaikan dengan proses kerja.
Demikian juga pelaksanaan penilaian mempertimbangkan standar penilaian.
![]() |
![]() |
||
Gambar Produksi Jamur Tiram (TeFa SMK Negeri 1 Cugenang,
Cianjur – Jawa Barat)
Business plan yang dirancang bersama SMK dan DUDI diharapkan mencegah
terjadinya persaingan tidak sehat antara produk TeFa dengan produk lain yang
ada di lingkungan/wilayah sekolah atau persaingan antara TeFa dengan DUDI. Sebaliknya
diharapkan dapat saling memperkuat dan saling melengkapi dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat serta dalam mengekplorasi dan mengembangkan potensi
keunggulan sumber daya di wilayahnya.
Teaching factory adalah model pembelajaran pada SMK, oleh karena itu dalam pengembangannya
harus mengacu pada Kurikulum SMK yang berlaku, yaitu mengupayakan agar kompetensi-kompetensi
yang ada di dalam kurikulum tersebut dapat dikuasai oleh peserta didik secara
riil dan utuh melalui pemberian pengalaman langsung membuat atau menghasilkan produk,
baik barang maupun layanan jasa sesuai dengan kompetensi keahlian yang
dipelajari. Produk yang dihasilkan berupa barang atau jasa yang benar-benar ada
dan digunakan oleh masyarakat, layak pakai dan dibutuhkan masyarakat pada
umumnya, sesuai dengan standar baik mutu produk maupun proses memroduksinya sebagaimana
yang terjadi dan dilakukan oleh DUDI. Ketentuan sebagaimana yang berlaku di
DUDI tersebut harus diterapkan atau diadopsi sepenuhnya di SMK yang
mengembangkan model pembelajaran TeFa, termasuk penataan kondisi lingkungan
tempat/ruang/lahan produksi mulai dari tahap persiapan, proses/ pelaksanaan
produksi, hingga tahap pemanfaatan atau pemasaran produk bahkan termasuk tahap inovasi
dan pengembangan produk.
Di bawah ini adalah komponen-komponen Teaching Factory yang perlu dikembangkan/disiapkan sekolah, mulai
dari komponen yang paling prioritas untuk dikembangkan karena akan menjadi
prasyarat terhadap kebaikan komponen berikutnya.
1.
Kemitraan-strategis;
2.
Produk;
3.
Perangkat
Pembelajaran;
4.
Guru Berpengalaman
DUDI;
5.
Lingkungan dan
fasilitas pendukung;
6.
Tata Kelola.
F.
Implementasi Teaching Factory

Operasional Teaching Factory atau
TeFa di SMK merupakan perpaduan antara tata kelola internal sekolah tentang
pembelajaran praktik berbasis produksi dan tata kelola eksternal berupa
pengelolaan usaha atau BLUD, atau pola lain yang mengatur mekanisme dan
prosedur pemanfaatan produk pembelajaran praktik oleh pihak pengguna produk. Karena
itu operasional TeFa sebaiknya dilakukan setelah ada kesiapan semua kelengkapan
instrument pendukung yang diperlukan. Rangaian kondisi di bawah ini dapat digunakan
sebagai acuan dalam menerapkan model pembelajaran TeFa secara utuh.
Implementasi model pembelajaran TeFa dilaksanakan di awal periode
pembelajaran (semester) setelah semua komponen pengembangan TeFa siap dikembangkan
(kemitraan DUDI, produk, perangkat pembelajaran, guru, pengkondisian sekolah dengan
dilengkapi tata kelola internal).
Sambil memulai mengoperasionalkan implementasi model pembelajaran TeFa, secara
bertahap dilakukan langkah-langkah upaya untuk memperoleh status dari pihak
yang berwenang menjadi sekolah berbadan usaha; misalnya BLUD atau bentuk badan hukum
lain yang mempunyai legitimasi mengatur administrasi dan penggunaan keuangan, khususnya
terkait dengan kegiatan-kegiatan transaksi dengan masyarakat/pengguna produk.
![]() |
![]() |
||
Gambar Produk Tefa Jamur Tiram (Kompetensi Keahlian ATPH SMKN 1 Cugenang,
Cianjur)
Penyelesaian langkah kedua yaitu upaya untuk memperoleh status sekolah berbadan
hukum usaha (misalnya BLUD) memerlukan waktu lama dan upaya yang tidak mudah,
sementara aktivitas produksi melalui pembelajaran praktik (TeFa) sudah mulai
berjalan. Dalam situasi tersebut, sekolah dapat melakukan transaksi alih
pemanfaatan produk TeFa kepada pihak pengguna produk/ masyarakat, tetapi
hal-hal yang menyangkut keuangan harus diadministrasikan dan dikelola tata cara
akuntansi dapat dipertanggungjawabkan.
Model pembelajaran TeFa pada dasarnya bertujuan untuk menghasilkan
lulusan SMK yang kompeten sesuai kompetensi keahlian yang dipelajari, artinya
produk model pembelajaran TeFa adalah lulusan yang kompeten. Sedangkan
transaksi alih pemanfaatan produk TeFa (barang atau jasa) kepada pihak pengguna
produk atau masyarakat konsumen (pelanggan), merupakan pembuktian bahwa peserta
didik telah kompeten karena produk yang dihasilkann diterima oleh
konsumen/pelanggan.
Proses pembelajaran berbasis produksi melalui model pembelajaran TeFa
harus dilakukan berulang-ulang, tidak mungkin sekali belajar membuat satu
barang atau melakukan satu layanan jasa lalu peserta didik dinyatakan kompeten.
Proses belajar menjadi kompeten harus dilakukan secara bertahap; mulai dari
mengerjakan hal-hal yang sederhana menuju ke hal-hal yang lebih kompleks, dari
bagian-bagian menuju satu keutuhan produk, dari proses bekerja dengan bimbingan
yang ketat perlahan menuju proses bekerja mandiri. Selanjutnya peserta didik
akan berulang-ulang melakukan pembuatan barang atau melaksanakan pelayanan jasa
sesuai dengan kompetensi keahliann, hingga pada akhirnya benar-benar menjadi
mahir. Proses-proses pengulangan melakukan produksi dalam kondisi dan stuasi
lingkungan kerja yang telah ditata sebagaimana yang ada di dunia kerja (DUDI),
diyakini dapat membentuk peserta didik jadi mahir sesuai keahliannya sekaligus
memiliki karakter dan budaya kerja DUDI.
Aktivitas transaksi alih pemanfaatan produk TeFa kepada pihak pengguna
(pelanggan), diharapkan akan mampu membantu sekolah dalam mengupayakan kestabilan
dan kesinambungan pengulangan proses-proses produksi tersebut, bahkan untuk melakukan
pengembangan inovasi produk sesuai dengan trend yang berkembang di masyarakat.
Demikian sekilas model pembelajaran Teaching Factory (Tefa) yang disarikan
dari materi bimtek Bantuan Tefa (Subdit Kurikulum Direktorat PSMK) Tahun
Anggaran 2019 dan Kegiatan Tefa Jamur Tiram di Program Keahlian ATPH di SMK Negeri
1 Cugenang, Kab. Cianjur.
Cianjur,
7 Agustus 2019
Penulis,
Undang
Iman Santosa
Sabtu, 03 Agustus 2019
Langganan:
Komentar (Atom)
KONSEP BUDAYA KERJA INDUSTRI BAGI LULUSAN SMK Oleh: Undang Iman Santosa *) *) Kepa...
-
Silahkan yang memerlukan di-download aja..! https://www.kemdikbud.go.id/main/ https://psmk.kemdikbud.go.id/halo
-
Assalamu'alaikum. Ayo teman-teman kita sama-sama bernostagia dengan mendengarkan Lagu "I'm Gonna Loose You". Selamat G...
-
Virtual Coordinator Programme VCI 101 JABAR 6 PJ WIL 6C/ INSTRUKTUR VCT JABAR 6.2 SEAMOLEC DESKRIPSI Seiring dengan peningk...






